CONTOH LAPORAN KINERJA TENAGA KESEHATAN TELADAN PROV BALI



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2015 bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang optimal di seluruh wilayah Republik Indonesia.
Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan tersebut diselenggarakan berbagai upaya kesehatan secara menyeluruh, berjenjang dan terpadu. Puskesmas adalah penanggungjawab penyelenggara upaya kesehatan untuk jenjang tingkat pertama. Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Puskesmas diperkuat dengan Puskesmas Pembantu, Polindes, Poskesdes serta Puskesmas Keliling. Untuk daerah yang jauh dari sarana pelayanan rujukan, Puskesmas dilengkapi dengan fasilitas rawat inap.
Puskesmas berfungsi sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat, serta pusat pelayanan kesehatan strata pertama. Dalam menjalankan fungsinya, Puskesmas bertanggungjawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat yang dilaksanakan melalui upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan.
Keberhasilan pelayanan kesehatan melalui Puskesmas memberikan kontribusi yang cukup besar didalam mewujudkan Indonesia Sehat 2015. Keberhasilan tersebut salah satunya sangat dipengaruhi oleh faktor Sumber Daya Manusia (SDM), baik kualitas maupun kuantitasnya. Diantaranya adalah ketersediaan  tenaga kesehatan dalam jumlah yang cukup, penyebarannya yang merata di seluruh daerah serta tersedianya tenaga kesehatan yang berkompeten, professional dan memiliki ketrampilan yang tinggi, sehingga mampu memberikan pelayanan yang bermutu di wilayah kerjanya.
Pemilihan tenaga kesehatan teladan di Puskesmas ini diharapkan dapat menjadi salah satu motivasi untuk meningkatkan minat tenaga kesehatan bekerja di Puskesmas sehingga dapat menjadi pendorong terciptanya tenaga kesehatan yang mempunyai sikap nasionalis, etis dan professional, memiliki semangat pengabdian yang tinggi, berdisiplin, kreatif, berilmu, terampil, berbudi luhur serta dapat memegang teguh etika profesi.
Puskesmas Kintamani VI merupakan salah satu Puskesmas yang stafnya terpilih sebagai wakil Kabupaten Bangli dalam penilaian tenaga kesehatan teladan tingkat Provinsi Bali tahun 2014, yaitu dengan kualifikasi tenaga paramedis (Bidan) atas nama Kasianah. Melalui Laporan Kinerja ini diharapkan dapat memberikan gambaran kinerja tenaga kesehatan yang bersangkutan selama dua tahun terakhir (tahun 2012 dan tahun 2013) dan memenuhi  persyaratan dalam penilaian lomba Nakes teladan Provinsi Bali tahun 2014.

B.     Tujuan
1.      Tujuan Umum
      Laporan Kinerja Tenaga Kesehatan Teladan ini bertujuan sebagai persyaratan dalam mengikuti lomba Nakes Teladan Provinsi Bali tahun 2014.  
2.      Tujuan Khusus
a.       Meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya di Puskesmas.
b.      Meningkatkan profesionalisme tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di Puskesmas.
c.       Meningkatkan ketrampilan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan sesuai profesinya  di Puskesmas.

C.    Sistematika Penulisan
      Laporan Kinerja  ini dapat digambarkan melalui sistematika penulisan sebagai berikut :
BAB I    : PENDAHULUAN
BAB II  : PELAKSANAAN PROGRAM
BAB III : HASIL PELAKSANAAN PROGRAM
BAB IV : PENUTUP
LAMPIRAN














BAB II
PELAKSANAAN PROGRAM

A.    Gambaran Umum Puskesmas Kintamani VI
1.      Keadaan Geografis
      Puskesmas Kintamani VI merupakan satu dari 12 Puskesmas di Kabupaten Bangli dan satu dari enam Puskesmas di Kecamatan Kintamani. Puskesmas Kintamani VI berdiri sejak tahun 2007, berada di Desa Bayunggede, Kecamatan Kintamani dengan luas wilayah kerja adalah 38,7 Km2.. Jarak dari Puskesmas ke Ibukota Kecamatan ± 8 Km, dapat ditempuh dalam waktu ±12 menit ( kecepatan 40 Km/jam). Sedangkan jarak dari Puskesmas ke Ibukota Kabupaten ±24 Km, dapat ditempuh dalam waktu 45 menit (kecepatan 40 Km/jam).
      Secara geografis wilayah kerja Puskesmas Kintamani VI berada di daerah pegunungan atau dataran tinggi, hal ini berpengaruh terhadap keadaan iklim dan curah hujan yang cukup tinggi. Keadaan ini sangat menguntungkan masyarakat, karena sulitnya sumber air bersih yang menjadi masalah disiasati oleh sebagian besar penduduk dengan mengandalkan penampungan air hujan (PAH) sebagai sarana untuk keperluan air bersih sehari-hari.
      Puskesmas Kintamani VI mewilayahi 9 (Sembilan) Desa dan 13 Dusun. Desa yang menjadi wilayah kerja Puskesmas Kintamani VI antara lain Abuan, Banua, Bayunggede, Belancan, Bonyoh, Katung, Mangguh, Sekaan dan Sekardadi.
2.      Keadaan Demografis
      Penyebaran penduduk di wilayah kerja Puskesmas Kintamani VI tidak merata. Sebagian desa memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Berikut ini gambaran luas wilayah, jumlah desa, jumlah penduduk, jumlah rumah tangga dan kepadatan penduduk di wilayah Puskesmas intamani VI.

Tabel 2.1 : Luas Wilayah, Jumlah Desa, Jumlah Penduduk, Jumlah Rumah Tangga, Dan Kepadatan Penduduk Di Wilayah Puskesmas Kintamani VI Tahun 2013

No
Desa
Luas Wilayah (Km2)
Jumlah Penduduk
Jumlah Rumah Tangga
Kepadatan Penduduk (per Km2)
1
Abuan
2,8
1.577
355
563
2
Banua
2,5
   689
213
275
3
Bayunggede
5,5
2.096
560
381
4
Belancan
7,9
2.111
473
267
5
Bonyoh
4,3
1.223
302
284
6
Katung
2,8
1.645
342
587
7
Mangguh
2,1
   772
148
367
8
Sekaan
2,5
1.820
438
728
9
Sekardadi
8,3
1.779
493
213
Total
38,7
  13.712
3.324
354
Sumber : Profil  Puskesmas Kintamani VI Tahun 2013

a.       Struktur penduduk menurut jenis kelamin
      Berdasarkan jenis kelamin, setengah dari seluruh penduduk di wilayah kerja Puskesmas Kintamani VI adalah berjenis kelamin laki-laki yaitu sebesar 50,14 %. Sedangkan penduduk dengan jenis kelamin perempuan sebesar 49,86 %. Perbandingan jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin dapat digambarkan dalam tabel berikut :

Tabel 2.2 : Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Di Wilayah Puskesmas Kintamani VI Tahun 2013

No
Desa
Jumlah Penduduk
Laki-laki
Perempuan
1
Abuan
1.577
799
778
2
Banua
   689
348
341
3
Bayunggede
2.096
1.058
1.011
4
Belancan
2.111
1.060
1.051
5
Bonyoh
1.223
526
697
6
Katung
1.645
825
820
7
Mangguh
   772
389
383
8
Sekaan
1.820
931
889
9
Sekardadi
1.779
911
868
Total
13.712
6.874
6.838
Sumber : Profil  Puskesmas Kintamani VI Tahun 2013

b.      Struktur penduduk menurut umur
      Penduduk di wilayah kerja Puskesmas Kintamani VI dikelompokkan menjadi penduduk produktif dan non produktif. Penduduk produktif (usia 15-64 tahun) berjumlah 9.453 jiwa, sedangkan penduduk non produktif (usia 0-14 tahun dan 65 tahun keatas) berjumlah 4.259 Jiwa. Dengan demikian maka beban tanggungan penduduk adalah sebesar 45,15 % artinya ± 45 penduduk non produktif ditanggung oleh 100 penduduk produktif. Jumlah penduduk menurut umur  dan rasio beban tanggungan di wilayah kerja Puskesmas Kintamani VI dapat digambarkan dalam lampiran 2.
c.       Tingkat pendidikan
      Hampir setengahnya atau sebesar 47, 62 % penduduk di wilayah Puskesmas Kintamani VI memiliki tingkat pendidikan SD, dan hanya sebagian kecil atau sebesar 1,72 % dengan tingkat pendidikan Sarjana. Tingkat pendidikan ini sangat mempengaruhi pengetahuan dan perilaku masyarakat khususnya di bidang kesehatan. Tabel berikut ini menggambarkan tingkat pendidikan penduduk di wilayah Puskesmas Kintamani VI.

Tabel 2.3 : Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Di Wilayah Puskesmas Kintamani VI Tahun 2013

No
Desa
Tingkat Pendidikan
Tdk/Blm sekolah
Tdk/Blm tamat SD
SD
SMP
SMU
AK/ Diploma
Universitas
Jml
1
Abuan
2
1
957
341
93
14
21
1.429
2
Banua
32
171
269
28
36
5
4
545
3
Bayunggede
82
270
484
150
162
31
17
1.196
4
Belancan
172
205
884
315
101
86
38
1.801
5
Bonyoh
70
55
476
40
88
9
8
746
6
Katung
181
111
763
196
205
16
51
1.523
7
Mangguh
54
77
423
98
54
0
16
722
8
Sekaan
94
200
436
387
327
42
23
1.509
9
Sekardadi
119
200
604
366
336
13
13
1.651
Total
806
1.290
5.296
1.921
1.402
216
191
11.122
Sumber : Profil Puskesmas Kintamani VI Tahun 2013
d.      Mata pencaharian
      Dilihat dari kondisi geografisnya, dapat diketahui mata pencaharian penduduk di wilayah puskesmas Kintamani VI sebagian besar adalah sebagai petani, meskipun ada beberapa penduduk yang memiliki mata pencaharian lain seperti pengerajin, PNS maupun wiraswasta. Mata pencaharian penduduk tersebut dapat digambarkan dalam tabel  berikut:

Tabel 2.4 : Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian Di Wilayah Puskesmas Kintamani VI Tahun 2013

No
Desa
Mata Pencaharian
Petani
Pengrajin
Pedagang
Buruh
PNS/TNI, Polri
1
Abuan
236
125
20
6
17
2
Banua
156
81
28
32
4
3
Bayunggede
896
0
27
45
6
4
Belancan
427
6
42
15
30
5
Bonyoh
455
0
12
21
13
6
Katung
239
4
19
19
35
7
Mangguh
255
20
17
18
4
8
Sekaan
767
10
98
73
12
9
Sekardadi
990
0
20
45
13
Total
4921
236
283
274
129
Sumber : Profil Puskesmas Kintamani VI Tahun 2013

e.       Data Sarana Pendidikan
      Upaya kesehatan yang dilaksanakan di Puskesmas Kintamani VI  tidak terlepas dari sekolah sebagai sasaran kegiatan, diantaranya program UKS, UKGS, Promkes  dan program terkait lainnya. Puskesmas Kintamani VI memiliki sasaran Sekolah terdiri dari 9 SD di setiap Desa, 1 SMP dan 1 SMU. Kegiatan yang dilaksanakan ke sekolah-sekolah tersebut diantaranya penyuluhan kesehatan, PHBS sekolah, kantin sehat, kesehatan remaja, HIV/ AIDS, Napza, pemantauan derajat kesehatan anak sekolah melalui kegiatan screening, dan kegiatan lainnya yang dilakukan secara rutin dan berkelanjutan.
f.       Data Sumber Daya Kesehatan
1)      Sarana kesehatan
      Puskesmas Kintamani VI sebagai Unit pelayanan kesehatan tingkat pertama didukung oleh  4 Puskesmas Pembantu, 4 Polindes dan 1 Poskesdes  dengan satu Bidan di setiap sarana tersebut. Puskesmas Pembantu tersebut adalah PP Belancan, PP Katung, PP Sekaan dan PP Sekardadi. Polindes terdiri dari Polindes Abuan, Banua, Bonyoh, dan Mangguh. Sedangkan Poskesdes terdapat di Banjar Bukih Desa Belancan. Masing-masing Bidan desa tersebut bertanggungjawab kepada Kepala Puskesmas Kintamani VI dengan menyusun laporan setiap bulannya dan berkoordinasi dengan pemegang program dalam pelaksanaan setiap kegiatan di wilayah kerjanya.
2)      Ketenagaan
      Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu sumber daya yang sangat penting dalam setiap bidang kegiatan. Dengan SDM yang cukup baik secara kuantitas maupun  kualitas, maka diharapkan proses yang dijalankan akan berjalan dengan baik dan menghasilkan Output yang baik pula.
      Puskesmas Kintamani VI pada tahun 2013 memiliki staf sebanyak 37 orang, dengan kualifikasi tenaga medis sebanyak 3 orang, tenaga para medis (Bidan dan Perawat) sebanyak 22 orang, tenaga analis 1 orang, tenaga sanitarian 4 orang, tenaga Gizi 1 orang,  teknisi gigi 1 orang dan tenaga administrasi sebanyak 4 orang. Gambaran ketenagaan di Puskesmas Kintamani VI dapat dilihat dalam tabel berikut :






Tabel 2.5 : Data Ketenagaan Di Puskesmas Kintamani VI Tahun 2013

No
Kualifikasi
Jumlah
Status Kepegawaian
1
Dokter Umum
2
PNS
2
Dokter Gigi
1
PNS
3
Perawat
7
PNS
4
Bidan
12
PNS
5
Bidan
2
PTT
6
Perawat gigi
1
PNS
7
Teknisi gigi
1
PNS
8
Asisten Apoteker
1
PNS
9
Tenaga Gizi
1
PNS
10
Sanitarian
4
PNS
11
Analis
1
PNS
12
Administrasi
4
PTT

Jumlah
37

Sumber : Profil Puskesmas Kintamani VI Tahun 2013

      Seluruh tenaga yang ada di Puskesmas Kintamani VI menjalankan tugasnya sesuai Tupoksi masing-masing yang telah ditetapkan oleh Kepala Puskesmas. Jumlah tenaga yang terbatas menyebabkan sebagian staf memiliki tugas lebih dari satu program.
3)      Pembiayaan kesehatan
Dalam operasionalnya Puskesmas Kintamani VI memperoleh dana untuk pembiayaan kesehatan yang bersumber dari APBD Kabupaten/ Kota dan APBN melalui Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).

B.     Pelaksanaan Program KIA-KB Di Puskesmas Kintamani VI
      Program KIA-KB merupakan salah satu upaya kesehatan wajib yang dilaksanakan di Puskesmas Kintamani VI. Program ini bertujuan memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu kepada ibu dan anak sehingga mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di wilayah kerjanya.
      Dalam pelaksanaannya program ini meliputi kesehatan ibu, kesehatan anak dan Keluarga Berencana. Dimana di Puskesmas Kintamani VI, masing-masing kegiatan tersebut dilaksanakan oleh seorang Bidan dan dibawah koordinasi seorang Bidan Koordinator.
Terkait dengan Profesi kami sebagai Bidan, program binaan dan Tupoksi, maka kegiatan program KIA-KB di Puskesmas Kintamani VI dapat kami uraikan sebagai berikut :
1.      Kegiatan di dalam gedung
Puskesmas Kintamani VI merupakan Puskesmas rawat jalan, sehingga Pelayanan Kebidanan yang dilaksanakan di Poli KIA-KB terdiri dari Pelayanan Antenatal, pelayanan KB, penanganan  balita sakit,  serta permasalahan  Obstetri dan Neonatal dengan sistem rujukan. Sedangkan pada jejaringnya yaitu Puskesmas Pembantu, Polindes dan Poskesdes memberikan pelayanan kebidanan yang lebih lengkap, mulai dari pelayanan umum, antenatal, persalinan, BBL dan Nifas, sampai penanganan kegawatan Obstetri dan Neonatal dan  rujukan.
Kegiatan pelayanan kebidanan di Poli KIA-KB Puskesmas Kintamani VI terdiri dari :
a.       Melaksanakan pengkajian pada klien
b.      Anamnesa dan pemeriksaan fisik
c.       Melakukan pengambilan bahan laboratorium
d.      Menegakkan diagnose kebidanan dan merencanakan asuhan kebidanan
e.       Melaksanakan persiapan alat dan obat untuk kegiatan
f.       Melaksanakan asuhan kebidanan
g.      Melaksanakan imunisasi
h.      Melaksanakan KIE dan konseling pada klien
i.        Melaksanakan rujukan
j.        Melaksanakan kolaborasi dengan unit terkait
k.      Melaksanakan evaluasi asuhan kebidanan
l.        Melaksanakan pencatatan dan pelaporan
Kegiatan pelayanan kebidanan dalam gedung ini dicatat dalam buku register rawat jalan dan dilaporkan setiap bulannya melalui laporan LB 1 ke Dinas Kesehatan Kab. Bangli.
2.      Kegiatan di luar gedung
      Sebagai Bidan dan Bidan Koordinator kami memiliki beberapa kegiatan di luar gedung, antara lain :
a.       Pendataan sasaran KIA
a.       Kunjungan rumah ibu hamil dan pemasangan stiker P4 K
b.      Kunjungan rumah ibu hamil resiko tinggi  dan balita resiko tinggi
c.       Kunjungan rumah ibu nifas dan neonatal
d.      Pemeriksaan tumbuh kembang bayi dan balita di Posyandu
e.       Pemeriksaan tumbuh kembang anak pra sekolah di TK
f.       Pemberian PMT untuk Bumil KEK dan Balita Gizi buruk
g.      Pemantauan kantong persalinan
h.      Pembinaan Puskesmas Pembantu, Polindes dan Poskesdes (Penyeliaan Fasilitatif)
i.        Penyuluhan dan konseling KB
j.        Penyuluhan Kesehatan
k.      Kunjungan dan pelaksanaan Kelas Ibu hamil
l.        Pembinaan kader posyandu dan kader kesehatan lainnya

3.      Kegiatan Daerah Binaan (Darbin)
      Selain sebagai pelaksana dan Koordinator program KIA-KB, kami juga memiliki tugas integrasi sebagai penanggungjawab Daerah Binaan (Darbin). Tahun 2012 kami sebagai penanggungjawab Darbin  Desa sekardadi. Sedangkan pada tahun 2013 kami menjadi penanggungjawab Darbin Desa Mangguh. Kegiatan Darbin tersebut meliputi pendataan sasaran, Posyandu, kunjungan rumah Bumil atau Balita bermasalah, Sweeping imunisasi, pemantauan balita Gizi buruk, Posyandu lansia, dll. Seluruh kegiatan tersebut dilaksanakan bersama Bidan desa dan pemegang program terkait di Puskesmas Kintamani VI.
4.      Tugas Administratif
      Sebagai Bidan Koordinator kami memiliki tugas administratif, antara lain :
a.       Melakukan Rekapitulasi laporan Bidan desa dan menyusun laporan bulanan maupun triwulan ke Dinkes Kabupaten Bangli
b.      Melakukan analisa data dan menyusun rencana tindak lanjut setiap triwulan
c.       Melakukan pencatatan ibu hamil dalam Register Kohort ibu
d.      Melengkapi kantong persalinan dengan membuat kartu taksiran persalinan setiap bulan
e.       Membuat visualisasi data berupa grafik PWS KIA setiap bulan
f.       Membuat peta sasaran KIA setiap bulan
g.      Melakukan koordinasi dengan Bidan desa

C.    Pembiayaan
Kegiatan-kegiatan tersebut di atas dibiayai melalui dana APBN dan APBD. Biaya kegiatan promotif preventif dan transport petugas ke lapangan dibiayai melalui dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). Program KIA-KB termasuk Upaya Kesehatan Prioritas yang mendapat alokasi dana BOK.
Program KIA-KB di Puskesmas Kintamani VI pada tahun 2012 mendapatkan alokasi dana sejumlah Rp 14.280.000,- dan pada tahun 2013 mendapatkan alokasi dana sejumlah Rp 18.180.000,-. Sejauh ini dana tersebut sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan program KIA-KB di Puskesmas Kintamani VI.
























BAB III
HASIL PELAKSANAAN PROGRAM

A.    Pembahasan
Hasil pelaksanaan program KIA-KB salah satunya dapat dilihat dari cakupan 14 indikator PWS KIA, yaitu cakupan K1, cakupan K4, Deteksi Bumil Resti oleh Nakes, Deteksi Bumil Resti oleh Masyarakat, Pertolongan persalinan oleh nakes, Pelayanan Nifas lengkap, Kunjungan Neonatus (KN1), kunjungan neonates lengkap, penanganan komplikasi obstetri, penanganan komplikasi neonatal, cakupan peserta KB aktif, cakupan kunjungan bayi, cakupan pelayanan kesehatan anak balita dan pelayanan kesehatan anak balita sakit di MTBS.
Cakupan 14 indikator PWS KIA pada tahun 2012 dapat digambarkan dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 3.1 : Cakupan PWS KIA Di Puskesmas Kintamani VI Tahun 2012
No
Indikator
Sasaran
Target
Cakupan (Absolut)
Persentase
1
Cakupan K1
252
100 %
232
92.1 %
2
Cakupan K4
252
98 %
186
73.8 %
3
Cakupan Deteksi Resti Oleh Nakes
50
40 %
45
90 %
4
Cakupan Deteksi Resti Oleh Masyarakat
50
60 %
53
106 %
5
Cakupan Persalinan oleh Nakes
240
100 %
200
83.3 %
6
Cakupan Kunjungan Nifas Lengkap
240
98 %
192
80 %
7
Cakupan KN 1
229
100 %
201
87.8 %
8
Cakupan KN Lengkap
229
98 %
191
83.4 %
9
Cakupan Penanganan Komplikasi Obstetri
50
80 %
42
84 %
10
Cakupan Penanganan Komplikasi Neonatal
35
80 %
22
62.9 %
11
Cakupan Peserta KB Aktif
2699
80 %
2409
89.25 %
12
Cakupan Kunjungan Bayi
229
90 %
217
94.75 %
13
Cakupan Pelayanan Anak Balita
850
90 %
870
102.3 %
14
Cakupan Pelayanan anak Balita sakit di MTBS
470
80 %
470
100 %
Sumber : Laporan PWS KIA Puskesmas Kintamani VI Tahun 2012
Sedangkan cakupan 14 indikator PWS KIA pada tahun 2013 dapat digambarkan dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 3.2 : Cakupan PWS KIA Di Puskesmas Kintamani VI Tahun 2013
No
Indikator
Sasaran
Target
Cakupan (Absolut)
Persentase
1
Cakupan K1
244
100 %
223
91,39 %
2
Cakupan K4
244
98 %
203
83,2 %
3
Cakupan Deteksi Resti Oleh Nakes
49
40 %
49
100 %
4
Cakupan Deteksi Resti Oleh Masyarakat
49
60 %
40
81,63 %
5
Cakupan Persalinan oleh Nakes
233
100 %
228
97,85 %
6
Cakupan Kunjungan Nifas Lengkap
233
98 %
212
90,99 %
7
Cakupan KN 1
222
100 %
224
101 %
8
Cakupan KN Lengkap
222
98 %
210
94,6 %
9
Cakupan Penanganan Komplikasi Obstetri
49
80 %
64
130,6 %
10
Cakupan Penanganan Komplikasi Neonatal
33
80 %
28
84,8 %
11
Cakupan Peserta KB Aktif
2676
80 %
2455
91.74 %
12
Cakupan Kunjungan Bayi
222
90 %
201
90.5 %
13
Cakupan Pelayanan Anak Balita
937
90 %
863
92.1 %
14
Cakupan Pelayanan anak Balita sakit di MTBS
474
80 %
474
100 %
Sumber : Laporan PWS KIA Puskesmas Kintamani VI Tahun 2013

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui terdapat beberapa indikator yang sudah mencapai  target dan tidak. Serta yang mengalami peningkatan bahkan penurunan di tahun 2013. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya pengetahuan masyarakat yang masih kurang tentang kesehatan ibu dan anak, dukungan peran serta masyarakat dan lintas sektor masih rendah, serta penetapan sasaran yang lebih tinggi dari sasaran riil yang ada di lapangan.
Di samping 14 indikator PWS KIA di atas, dapat kami sampaikan beberapa angka kejadian sebagai berikut :
1.      Angka Kematian Ibu (AKI)
AKI merupakan indikator derajat kesehatan di suatu daerah. Tahun 2012 dan tahun 2013 Puskesmas Kintamani VI tidak memiliki kasus kematian ibu, baik ibu hamil, melahirkan maupun nifas.
2.      Angka Kematian Bayi (AKB)
AKB merupakan indikator yang sangat sensitif terhadap ketersediaan pemanfaatan dan kualitas pelayanan kesehatan terutama pelayanan maternal dan perinatal di samping itu juga berhubungan dengan gizi keluarga, tingkat pendidikan ibu serta pendapatan keluarga. Tahun 2012 tidak terdapat kasus kematian bayi di Puskesmas Kintamani VI, dan tahun 2013 terdapat 4 kasus. Kematian bayi tersebut disebabkan oleh Asfiksia berat 1 orang, prematur/ BBLR 1 orang dan kelainan bawaan 2 orang.
Setiap kejadian kematian bayi, kami senantiasa menyusun laporan dan kronologis kematian ke Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli untuk dilakukan pengkajian melalui Review Maternal Perinatal di tingkat Kabupaten.
3.      Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
BBLR  merupakan indikator yang menggambarkan kualitas kesehatan ibu selama hamil, termasuk pelayanan ANC yang diberikan oleh Bidan. BBLR juga dipengaruhi oleh pola hidup ibu hamil, pola makan, aktifitas, istirahat, penyakit penyerta, dll. Tahun 2012 terdapat kasus BBLR sejumlah 11 bayi dan tahun 2013 meningkat menjadi sejumlah 15 bayi. Setiap kasus BBLR yang ada, senantiasa kami berkoordinasi dengan pemegang program Gizi untuk melakukan pemantauan Berat badan bayi serta upaya-upaya mempertahankan kesehatan bayi dan meningkatkan BB nya melalui kegiatan penyuluhan kepada orang tua bayi, keluarga, kunjungan rumah serta pemantauan BB di Posyandu setiap bulannya.
4.      Ibu hamil KEK dan Anemia
Kondisi kesehatan ibu hamil sangat menentukan proses persalinan dan nifas akan berjalan baik atau tidak. Ibu hamil dengan KEK dan anemia mempunyai resiko yang lebih tinggi, hal ini disebabkan kedua faktor tersebut akan mempengaruhi kesehatan janin dalam kandungan serta kemungkinan terjadi komplikasi dalam persalinan, sehingga mebutuhkan perhatian yang cukup serius. Jumlah Ibu hamil KEK dan anemia tahun 2012 dan tahun 2013 di Puskesmas Kintamani VI adalah sebagai berikut :

No
Faktor Penyebab
Tahun 2012
Tahun 2013
1
KEK (LILA < 23,5 cm)
7
9
2
Anemia (Hb < 11 gr/dl)
1
2

Jumlah
8
11

Setiap ibu hamil dengan KEK dan anemia akan kami konsultasikan dengan petugas Gizi untuk mendapatkan konseling gizi. Di samping itu kami juga melakukan pemantauan pola kehidupan sehari-hari melalui kunjungan rumah, serta pemberian PMT bumil yang terintegrasi dengan BOK. Selanjutnya kami memantau perkembangan kenaikan BB dan LILA bumil pada bulan berikutnya.


5.       Ibu hamil resiko tinggi dengan umur terlalu muda (< 20 tahun)
Salah satu permasalahan yang kami hadapi adalah masih tingginya ibu hamil resiko tinggi dengan umur terlalu muda (kurang dari 20 tahun). Dibandingkan dengan faktor resiko yang lain, faktor umur terlalu muda masih menempati posisi teratas. Tahun 2012 ibu hamil dengan resiko tinggi dengan umur terlalu muda sejumlah 53 orang, atau 54,08 % dari seluruh bumil resiko tinggi yang ada. Sedangkan pada tahun 2013 jumlah ibu hamil resti tersebut sedikit menurun menjadi 42 orang, atau 47,2 % dari seluruh bumil resiko tinggi  yang ada.
Hal ini sangat menjadi perhatian kami, mengingat kemungkinan yang dapat terjadi akibat faktor risiko ini cukup besar. Baik menyangkut kesehatan ibu, bayi maupun kemampuan dan psikologi keluarga tersebut dalam mengasuh dan merawat bayi selanjutnya.

B.     Permasalahan
Masing-masing desa di wilayah Puskesmas Kintamani VI memiliki permasalahan yang berbeda dan berfariasi di bidang kesehatan, khususnya program KIA-KB. Hal ini sangat dipengaruhi oleh karakteristik masyarakat masing-masing desa. Berdasarkan pemaparan hasil pelaksanaan program KIA-KB tahun 2012 dan tahun 2013 tersebut diatas, serta analisa data yang kami lakukan setiap triwulan, maka secara umum dapat kami sampaikan beberapa permasalahan dalam pelaksanaan program KIA-KB di Puskesmas Kintamani VI adalah sebagai berikut :
1.      Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang Kesehatan Ibu dan Anak dan Keluarga Berencana (KIA-KB)
2.      Kurangnya pengetahuan remaja tentang kehamilan usia dini (< 20 tahun)


C.    Upaya Pemecahan
Permasalahan yang ada di setiap program di Puskesmas Kintamani VI senantiasa dibahas dan didiskusikan dalam pertemuan bulanan maupun mini lokakarya, untuk kemudian disusun berdasarkan urutan prioritas masalahnya. Dan selanjutnya ditetapkan rencana tindak lanjut atau upaya pemecahannya. Demikian pula program KIA-KB yang merupakan upaya kesehatan wajib di Puskesmas, selalu mendapatkan perhatian dan prioritas.
Berdasarkan permasalahan di atas, berikut kami sampaikan upaya pemecahan yang telah dan sedang kami lakukan saat ini, antara lain :
1.      Meningkatkan koordinasi dan kerja sama lintas program
Setiap permasalahan yang ditemukan di Puskesmas Kintamani VI, tidak akan dapat diselesaikan tanpa adanya dukungan dan kerja sama semua program. Karena masing-masing program adalah saling terkait dan saling mengisi.
Masalah yang ditemukan, termasuk program KIA-KB akan disampaikan dan dibahas dalam pertemuan bulanan yang dilaksanakan pada minggu pertama setiap bulannya dengan menghadirkan seluruh staf dan Bidan desa. Dalam pertemuan tersebut kami semua mencoba menggali penyebabnya dan menyusun rencana pemecahannya pada bulan selanjutnya.
Dalam setiap pelaksanaan kegiatan kami berusaha untuk terintegrasi dengan program lain. Misalnya pada kegiatan Posyandu, kita akan melibatkan program KIA, Gizi, Imunisasi dan Promkes. Pada kegiatan penyuluhan di masyarakat kami senantiasa berusaha menyisipkan materi KIA di dalamnya. Demikian pula dengan kegiatan lainnya.
2.      Meningkatkan koordinasi dan kerja sama lintas sektor
Dukungan dan peran serta masyarakat termasuk Aparat Desa sangat mempengaruhi keberhasilan suatu program. Oleh karena itu kami berusaha melakukan pendekatan lintas sektor melalui pertemuan di desa atau Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) maupun pertemuan mini lokakarya lintas sektor yang diadakan pada awal tahun di Puskesmas Kintamani VI.
Dalam pertemuan tersebut kami menyampaikan data dan permasalahan yang ada di wilayah kerja termasuk masalah KIA-KB. Selanjutnya Kepala Desa dan lintas sektor lainnya menyampaikan tanggapan dan dukungan apa yang dapat diberikan. Kemudian disusun kesepakatan dan rencana pemecahan dari masalah tersebut bersama-sama.
3.      Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang KIA-KB
Upaya  ini dilaksanakan melalui kegiatan penyuluhan baik kelompok maupun perorangan yang terintegrasi dengan program lain. Sebagai sasaran penyuluhan diantaranya ibu-ibu PKK, ibu balita, ibu hamil, remaja, kader Posyandu dan masyarakat umum. Tahun 2012 kami telah melakukan kegiatan penyuluhan kelompok sebanyak 24 kali. Dan tahun 2013 kegiatan tersebut telah kami laksanakan sebanyak 18  kali. Materi yang diberikan diantaranya PHBS, penyakit menular, ASI Eksklusif, Gizi Balita, Posyandu, dll.
Melalui kegiatan penyuluhan ini diharapkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan dapat semakin meningkat. Sehingga kemandirian masyarakat di bidang kesehatan dalam hal mengenali masalah, menyadari dan melakukan upaya untuk memecahkannya mampu mereka laksanakan.
4.      Menyelenggarakan Kelas Ibu Hamil
Disamping melalui kegiatan penyuluhan, sejak tahun 2012 kami juga telah melaksanakan kegiatan Kelas Ibu Hamil sebagai upaya meningkatkan pengetahuan ibu hamil dan keluarganya tentang kesehatan pada saat kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir.
Mengingat kondisi geografis dan kesibukan masyarakat yang tidak memungkinkan untuk dilaksanakannya kegiatan kelas ibu ini di satu tempat saja (misalnya di Puskesmas), maka kami berupaya untuk mengadakannya di setiap desa. Walaupun jumlah ibu hamil yang ada kurang dari lima orang, namun dengan semangat para ibu hamil dan rekan-rekan di Puskesmas, kegiatan ini dapat terselenggara.
Kelas Ibu Hamil yang kami laksanakan di tahun 2012 adalah sebanyak11 kelas. Dan di tahun 2013 terselenggara 15 kelas ibu hamil. Dalam pelaksanaannya kami sangat terkendala dengan kurangnya sarana prasarana, misalnya alat peraga (paket kelas ibu), matras dan blangko pre tes dan post tes. Selama ini kami masih meminjam paket tersebut ke Puskesmas Susut I. Namun kendala tersebut bukan merupakan halangan bagi kami, Bidan desa dan ibu hamil untuk melaksanakan kegiatan ini.
Dengan terlaksananya kegiatan Kelas Ibu Hamil ini, manfaat yang dirasakan baik oleh ibu hamil sendiri maupun oleh petugas kesehatan (Bidan) adalah sangat besar. Ibu hamil menyatakan sangat senang dan bertambah pengetahuannya serta lebih siap menghadapi persalinan dan masa nifas. Sedangkan petugas kesehatan merasa lebih mudah menyampaikan pesan-pesan kesehatan dan mampu menggerakkan masyarakat khususnya dalam pengenalan tanda bahaya dan penanganan komplikasi obstetri dan neonatal.
5.      Meningkatkan  pengetahuan remaja tentang kehamilan usia dini (< 20 tahun)
Tingginya jumlah ibu hamil resiko tinggi dengan umur kurang dari 20 tahun, mendorong kami untuk berusaha menggali lebih dalam dengan mencari tahu faktor-faktor yang menyebabkan permasalahan ini terjadi dengan melakukan penelitian deskriptif pada bulan Juni 2013 di SMU 1 Kintamani dengan judul “Pengetahuan Remaja Tentang Seks Dini Di SMU 1 Kintamani Tahun 2013”. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diperoleh data bahwa sebagian besar remaja yang menjadi responden kami memiliki pengetahuan cukup tentang seks dini.
Hal ini dikarenakan para remaja memperoleh sumber informasi tentang seks dini melalui media masa, elektronik dan internet, sehingga sangat mempengaruhi pengetahuannya, merangsang fikiran dan mendorong hasrat seksual mereka. Hasil penelitian ini akan kami tindak lanjuti dengan meningkatkan penyuluhan kesehatan reproduksi pada kelompok remaja di wilayah Puskesmas Kintamani VI.
Selanjutnya kami sampaikan bahwa kegiatan penyuluhan dan pembinaan kelompok remaja telah kami laksanakan terintegrasi dengan program PKPR sejak tahun 2009. Pembinaan dan penyuluhan kelompok remaja pada tahun 2012 telah dilakukan sebanyak 11 kali. Dan pada tahun 2013 telah dilakukan sebanyak 12  kali.
Dengan upaya yang kami lakukan bersama, serta dukungan dan peran serta para remaja itu sendiri, maka pada tahun 2013 terjadi penurunan jumlah ibu hamil resiko tinggi dengan umur kurang dari 20 tahun, dari 53 orang menjadi 42 orang. Harapan kami jumlah tersebut akan semakin menurun di tahun ini. Sehingga komplikasi obstetri pada kehamilan dan persalinan dapat semakin ditekan.
6.      Melaksanakan Pelatihan Kader Remaja
Salah satu upaya yang telah kami lakukan bersama program PKPR untuk memudahkan pembinaan kelompok remaja dalam rangka peningkatan derajat kesehatan adalah dengan melakukan pelatihan kader remaja di Tahun 2011. Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan remaja masing-masing 2 orang per desa.
Dengan terbentuknya kader remaja di setiap desa, kami mengharapkan terjadinya peningkatan pengetahuan remaja tentang kesehatan termasuk penurunan jumlah ibu hamil di usia kurang dari 20 tahun.








BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
      Pelaksanaan program KIA-KB di Puskesmas Kintamani VI masih membutuhkan perbaikan dan peningkatan di berbagai sisi. Kerja sama lintas program dan lintas sektor harus ditingkatkan lagi dan semangat untuk lebih maju dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kintamani VI.
      Penilaian tenaga kesehatan teladan ini diharapkan mampu mendorong semua Nakes yang ada untuk senantiasa menjalankan tugas dan fungsinya secara professional, bermutu dan berkompeten. Menjadikan tenaga kesehatan yang  memiliki semangat pengabdian yang tinggi, berdisiplin, kreatif, berilmu, terampil, berbudi luhur serta dapat memegang teguh etika profesi.

B.     Saran
Berdasarkan laporan kinerja ini, maka saran yang dapat kami berikan adalah sebagai berikut :
1.      Untuk Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli
Diharapkan senantiasa memberikan bimbingan, pengawasan dan evaluasi terhadap kinerja tenaga kesehatan yang ada di Kabupaten Bangli, sehingga kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan semakin meningkat.
2.      Untuk Puskesmas Kintamani VI
Diharapkan untuk terus meningkatkan kinerja, kekompakan dan kerja sama dalam berbagai kegiatan, sehingga masyarakat dapat terlayani dengan baik.


HAMIL ANGGUR, INI DIA PEMICUNYA


Hamil anggur (mola hidatidosa) adalah kehamilan abnormal berupa pertumbuhan yang berlebihan dari sel-sel plasenta atau ari-ari yang berbentuk gelembung-gelembung seperti buah anggur. Guru Besar Tetap FKUI, Prof  Dr dr Andrijono, SpOG (K) menjelaskan, pada umumnya dalam keadaan hamil anggur tidak ada pertumbuhan janin.

Tapi, dalam sejumlah presentase kecil, hamil anggur dapat disertai pertumbuhan janin. "Keadaan ini disebut hamil anggur parsial, di mana janin yang tumbuh umumnya disertai kelainan atau cacat bawaan," jelasnya beberapa waktu lalu di Jakarta.


Kasus hamil anggur di Indonesia dikabarkan cukup besar terjadi. Sekitar satu dari 40 hingga 400 kehamilan terjadi hamil anggur. Demikian juga di negara-negara Asia dan Amerika. Sedangkan di negara-negaa Eropa relatif kecil. "Perbedaan persentase ini terjadi karena umumnya hamil anggur diderita oleh perempuan yang masih muda dan kehamilannya merupakan kehamilan pertama," jelasnya.

Menurut Andrijono, karena hamil anggur merupakan kehamilan yang bersifat abnormal maka perempuan yang mengalaminya harus segera mengeluarkan kandungannya. Yang juga perlu dipahami, perempuan yang mengalami hamil anggur juga dapat mengalami komplikasi. Misalnya perdarahan, infeksi, dan munculnya kanker.  

Kanker dapat menyebar ke organ tubuh lainnya seperti paru-paru, otak dan organ lainnya sehingga menyebabkan kematian. Kematian akibat kanker setelah hamil anggur terjadi akibat penyebaran kanker dari otak ke hati. "Namun, jika perempuan yang mengalami hamil anggur dapat sembuh, perempuan tersebut dapat hamil secara normal," katanya.

Sampai saat ini penyebab hamil anggur masih menjadi misteri. Namun, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Andrijono, diduga kuat salah satu penyebabnya adalah kekurangan vitamin A. "Pada penelitian ini, kami mendapatkan hasil bahwa kadar vitamin A dalam darah penderita hamil anggur lebih rendah dibandingkan perempuan dengan hamil normal," ungkapnya.

Penelitian ini juga memperlihatkan perempuan hamil yang kekurangan vitamin A berisiko menderita hamil anggur sebesar 6,8 kali lebih besar. "Risiko itu dapat meningkat tujuh kali jika kehamilan tersebut merupakan kehamilan yang pertama," tandasnya.

Menurutnya, rendahnya kadar vitamin A dalam darah perempuan hamil anggur tersebut telah berlangsung lama dan telah terjadi sebelum kehamilan. Fakta ini terlihat dari 73,13 persen penderita hamil anggur, deposit vitamin A-nya berada di bawah normal.

Andrijono menambahkan, pemberian vitamin A pada biakan sel-sel hamil anggur terbukti dapat meningkatkan kematian sel hamil anggur. "Hasil penelitan ini menunjukkan bahwa vitamin A dapat mematikan sel-sel hamil anggur secara fisiologis. Sehingga pemberian vitamin A dapat merangsang pemulihan pada penderita hamil anggur," ungkapnya.

Penelitian tersebut juga membuktikkan vitamin A dapat meningkatkan proses kesembuhan dan mencegah terjadinya kanker yang disebabkan sel hamil anggur yang tumbuh berlebihan. Menurutnya, pencegahan ini sangat berarti sebab mudah dilakukan, murah, dan sangat efektif.

Berdasarkan hasil-hasil penelitian tersebut, Andrijono yakin vitamin A sangat penting peranannya dalam menanggulangi hamil anggur. "Pemenuhan gizi, khususnya vitamin A, akan menghindari ibu yang akan hamil dari kekurangan vitamin A. Dan terhindarnya calon ibu dari kekurangan vitamin A akan membantu menghindari kemungkinan menderita hamil anggur," ujarnya.

SUMBER: http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/12/06/19/m5uw78-hamil-anggur-ini-dia-pemicunya

Tips Cegah Penyakit di Musim Hujan



MUSIM hujan sudah kembali melanda berbagai daerah di Indonesia. Selain dihadapkan dengan masalah banjir, beberapa penyakit juga akan tumbuh subur di musim hujan, seperti influenza atau flu, demam berdarah, dan diare. Banyak kasus penyakit yang semula tak ada di musim hujan kemudian timbul karena sebab tersebut, contohnya penyakit leptospirosis, yang berasal dari tikus. Mulanya agent penyakit tak ada, kalau kuman pada urin tikus tak keluar terbawa air musim hujan. Namun, karena hujan, kuman tersebut bisa jadi berada di genangan-genangan air yang terinjak kaki.
Jika kita terinjak oleh kotoran tikus dan kebetulan kaki kita ada yang lecet atau terluka, kuman tersebut dapat masuk ke dalam tubuh kita. Contoh lainnya adalah mengenai kemungkinan tercemarnya sumber air bersih. Air hujan akan membawa kotoran ke berbagai tempat, juga bisa mencemari berbagai sumber air bersih, Akibatnya tentu akan menurunkan kualitas air menjadi tak layak konsumsi.
Hujan juga akan menyebabkan timbulnya genangan-genangan air baru. Yang ternyata menjadi tempat potensial untuk hidupnya nyamuk Aides aegypti, yang dikenal sebagai pemicu lahirnya penyakit demam berdarah.
Jadi sudah siapkah kita melakukan pencegahan dari penyakit utama musim hujan tersebut ?

Mencegah Flu

  • Cuci Tangan, Sebagian virus flu menyebar lewat kontak langsung, jadi usahakan untuk mencuci tangan sesering mungkin pakai sabun dan kalau bisa dengan air hangat.
  • Jangan Menyentuh Muka, Biasanya virus flu masuk ke tubuh lewat mata, hidung atau mulut. Jadi usahakan jangan terlalu sering menyentuh bagian muka.
  • Mengkonsumsi makanan dan minuman hangat, terutama menu empat sehat lima sempurna. Konsumsi makanan yang mengandung Phytochemical, yaitu bahan kimia alami yang ada pada tumbuhan yang memberi vitamin pada makanan. Zat jenis ini terdapat pada buah dan sayur segar berwarna hijau, merah dan kuning gelap.
  • Minum Banyak Air Putih, Air berfungsi mengangkat racun-racun yang ada dalam tubuh. Orang dewasa butuh delapan gelas air dalam sehari.
  • Terapkan pola hidup sehat  dan berolahraga secara teratur, tak perlu olahraga berat. Yang penting dapat dilakukan secara teratur, seperti jogging ataupun senam ringan. Beristirahat cukup. Istirahat yang cukup akan memperkuat daya tahan tubuh.
  • Hindari kontak dengan penderita. Virus flu tersebar juga melalui udara dan air liur. Oleh karena itu, hindari pertemuan jarak dekat dengan penderita flu.
  • Jangan merokok. Perokok berat lebih rentan terserang flu. Asap rokok dapat menyebabkan bagian sistem pernapasan kering, sehingga lebih mudah terserang virus.
  • Bila Anda menggunakan AC, sering-seringlah membersihkan penyaringnya agar debu, jamur, dan berbagai hal yang mungkin dapat mencetuskan alergi dapat dikurangi. Demikian juga dengan karpet dan sofa.
  • Kenakan jas hujan atau payung ketika hujan. Gunakan penutup hidung bila berada di daerah rawan polusi.

Mencegah Demam Berdarah

  • Rajin-rajinlah membersihkan selokan, bak-bak air tadah hujan maupun kamar mandi, membuang sampah pada tempatnya dan menyiangi kebun untuk menghindari nyamuk berkembang biak.
  • Usir nyamuk dengan obat nyamuk sebelum berangkat tidur, atau Anda bisa menggunakan obat nyamuk gosok, atau tidur menggunakan kelambu.
  • Bak atau tempat penampungan air harus ditutup untuk mencegah nyamuk bertelur di tempat itu dan dikuras paling tidak dua kali seminggu, supaya telur-telur nyamuk tidak menetas menjadi jentik.
  • Jaga kerapian. Jangan menggantung baju. Lebih baik lipat saja, sebab pakaian yang tergantung bisa menjadi tempat persembunyian nyamuk aedes aegypti. Bersihkan setiap hari meja dan laci yang ada di kamar Anda. Buanglah kertas-kertas yang tak terpakai sebab laci meja yang kotor dan tak terurus juga bisa menjadi sarang nyamuk.
  • Abatisasi. Abatisasi adalah menaburkan bubuk abate pada tempat-tempat penampungan air. Abatisasi bisa diulang setiap 2-3 bulan sekali. Abate tidak berbahaya bagi manusia. Abatisasi hanya pada tempat-tempat air tergenang, seperti bak mandi, jambangan bunga, dan selokan kecil. Jangan taburkan abate ke air yang mengalir. Abate juga baik ditaburkan ke tempat-tempat air yang sulit dikuras atau dibersihkan.

Cegah Diare

Kita harus memperhatikan lingkungan agar tetap terhindar dari potensi timbulnya penyakit. Kuman atau bibit penyakit akan tumbuh subur pada lingkungan yang kotor. Pada keadaan tersebut kalau kita perhatikan lingkungan sekitar bahwa lalat dan kecoa akan lebih banyak. Kita tahu bahwa lalat dan kecoa merupakan vector penting membawa kuman penyakit, terutama kuman penyakit yang menyerang pencernaan kita. Saat musim hujan, permukaan air naik. Jika air tersebut tercemar dan masuk ke dalam sumur atau sumber air lainnya yang dikonsumsi masyarakat, maka rentan terserang diare.
Berikut beberapa tips untuk mencegah diare:
  • Saat hujan turun tiap hari, selokan-selokan yang tersumbat biasanya meluap, dan membawa parasit cacing serta amoeba turut terangkat. Untuk mencegah diare biasakan untuk menjaga kebersihan dengan cuci tangan dan kaki setelah berpergian. Cuci tangan sebelum makan dengan sabun
  • Kenakan alas kaki untuk mencegah penyebaran dan masuknya kotoran atau parasit lewat kulit.
  • Hindari membeli makanan di sembarang tempat. Minumlah hanya minum air matang atau  air yang sudah mendidih, mengkonsumsi makanan yang telah dimasak.  Tutup makanan yang disajikan dengan tudung saji.
  • Jaga kebersihan lingkungan dengan membersihkan selokan, terutama yang tersumbat, buang sampah pada tempatnya.
  • Perbanyak minum vitamin dan asupan nutrisi untuk menjaga kondisi tubuh.
  • Sediakan selalu oralit di rumah.
Sumber: http://www.rsi.co.id

KULIYAH

Kuliyaaaaah ?
gak kebayang aja saya harus kuliyah lagi,padahal aku sendiri sudah PNS , yach mau gimana lagi terpaksa aku harus kuliyah juga tuk mengambil D III Kebidanan karna memang sudah menjadi tuntutan Propesi di Instansiku,
banyak suka dan dukanya menjalani kuliyah disaat diriku sudah berkeluarga dan sudah bekerja ,harus meninggalkan keluarga ,ijin pulang lebih awal dari pegawai lainnya hanya untuk agar bisa kuliyah 60 km adalah jarak yang harus ditempuh untuk bisa nyampai dikampus,jauh banget tapi masih ada temen2 seangkatan yg lebih jauh lagi dariku namun mereka tetap bersemangat dalam menempuh perkuliyahannya .
heeeeeeeeeeeeem rasanya pingin cepet selesai kuliyahku ini aku capek,lelah dan letih,syukurlah semua itu bisa terobati sedikit dengan dukungan dari keluarga dan juga teman teman kuliyah yang menyenangkan,kami berbagi banyak hal berbagi tugas berbagi pengalaman terkadang juga berbagi makanan .hehhehe
duuuuuuuuuh suntuk banget rasanya hari ini ...........
sambil menunggu disajikan mejeng dulu aaaaaaah

aku doyan banget dengan yang namanya sate ....hehhehe


Melahirkan Normal: Tips Menghilangkan Rasa Sakit



Melahirkan normal merupakan proses melahirkan yang diidamkan oleh para ibu yang sedang menjalani kehamilan. Selain itu melahirkan normal juga merupakan proses melahirkan yang disarankan oleh dunia medis. Dengan menjalani melahirkan normal, salah satunya menandakan bahwa kehamilan yang telah dikandung, atau janin serta ibunya mengalami kesehatan yang baik. Pengalaman menjadi seorang ibu terasa sempurna tatkala merasakan bagaimana perjuangan berat yang harus di lalui saat melewati proses persalinan normal. Namun dibalik semua itu, banyak ibu hamil merasakan kekhawatiran atau ketakutan menjelang melahirkan.
Wajar adanya, karena proses melahirkan merupakan sebuah proses besar yang harus dilalui oleh para ibu hamil. Tenaga, pikiran hingga mental ibu dikerahkan guna melalui proses melahirkan dengan selamat. Salah satu faktor yang menyebabkan rasa khawatir atau takut ketika akan menghadapi proses persalinan, adalah bayangan rasa sakit yang akan menimpa para ibu hamil tatkala menjalani proses melahirkan normal. Tidak bisa dipungkiri, memang melahirkan normal akan menimbulkan rasa sakit bagi para ibu. Namun rasa sakit yang di derita para ibu ibu hamil akan berbeda kadarnya, ada yang benar-benar merasakan sakit yang luar biasa, namun banyak pula sakit yang dirasakan hanya sekejap. Tentunya hal ini banyak faktor penyebabnya. dimulai dari pengalaman melahirkan, ukuran dan berat bayi, dukungan (suami, keluarga), teknik melahirkan, bahkan dari penolong medis mulai dari dokter atau bidan itu sendiri, dll.
Guna membantu para ibu hamil dapat melewawi proses melahirkan tanpa tersiksa oleh rasa sakit yang luar biasa, berikut beberapa tips yang dapat digunakan agar rasa sakit saat melahirkan dapat berkurang atau malah hilang.

Berdoa Kepada Tuhan

Segala sesuatu dalah kehidupan ini tentulah ada yang maha mengatur Yahitu Tuhan. Hanya Dia yang bisa menetukan segalanya terhadap apa-apa yang ada di muka bumi ini, termasuk dalam proses melahirkan yang akan ibu lalui. Jadi berdoa dan berdzikir lah kepada Nya, agar proses melahirkan normal yang akan ibu lalui dapat berjalan dengan lancar dan tentunya keselamatan menghinggapi ibu dan bayi ibu.

Yakin dan Percaya

Hilangkan segala bentuk bayangan atau pikiran bahwa melahirkan itu merupakan sebuah proses yang menyakitkan. Jika kondisi sakit menghantui diri ibu, maka niscaya proses melahirkan memang akan sakit. Tapi tanamkanlah di benak dan pikiran ibu, bahwa melahirkan itulah bukanlah sebuah proses yang menyakitkan, tapi sebuah proses alami yang harus di lalui, dan telah berjuta-juta ibu di muka bumi ini telah melalui proses ini dengan selamat, dan mereka bisa. Percayakan kepada diri anda bahwa melahirkan itu tidak menyakitkan, hal ini akan membantu psikologis ibu, membantu rasa percaya diri dalam menghadapi proses melahirkan normal.

Lakukan Jalan-jalan Kecil

Saat kontraksi belum memuncak, dan menurut medis ibu masih memiliki waktu sebelum melahirkan, manfaatkan waktu ini dengan berjalan-jalan kecil dan santai di sekitar ruangan persalinan. Hal ini dapat membantu ibu mempercepat dan memperlancar proses persalinan

Rileks Menjelangkan Melahirkan

Tegang menjelang proses melahirkan, malah akan membuat otot ibu akan kaku. Jika kondisi ini terjadi, maka proses melahirkan akan terasa menyakitkan. Proses melahirkan membutuhkan otot-otot yang luwes terutama di sekitar pinggul, paha, perut. Karena akan terjadi peregangan otot yang hebat pada saat proses melahirkan. Oleh karena itu rileks menjelang melahirkan akan membuat otot-otot anda luwes, selain itu pikiran ibu pun akan terasa tenang.
Selengkapnya bisa di baca: Teknik Relaksasi Menjelang Persalinan

Dukungan Suami dan Keluarga

Melahirkan adalah proses besar yang harus di lalui ibu. Dibutuhkan banyak dukungan guna melewatinya agar berjalan dengan selamat dan lancar. Dukungan suami dan keluarga akan membuat ibu lebih termotivasi. Bahkan rasa cinta suami yang tulus yang tercurah tatkala memijat lembut punggung ibu, membetulkan posisi bantal ibu, atau mengelap keringat ibu akan menjadi daya magic yang luar biasa bagi ibu. Hilanglah rasa sakit saat proses melahirkan, tatkala ibu merasakan betapa tulus dan cintanya suami kepada ibu.
Mengenai peran dan dukungan apa saja yang bisa suami lakukan selama proses melahirkan, selengkapnya bisa di baca di : Peran Suami Selama Proses Persalinan.

Gunakan Teknik Pernafasan Yang Benar

Selama proses melahirkan dibutuhkan tenaga yang begitu besar. Jika ibu tidak bisa mengatur tenaga saat proses persalinan, maka melahirkan akan begitu lama dan tentunya akan menyiksa ibu. Salah satu teknik yang bisa digunakan ibu guna mengatur energi ini adalah dengan mengatur teknik pernafasaan saat melahirkan. Menggunakan teknik pernafasan yang benar, selain dapat membantu mengatur energi, juga mengatur pasokan oksigen, membantu rileksasi, dan membantu saat mengejan dan mendorong dan respon positif terhadap kontraksi.
Selengkapnya mengenai teknik pernafasan : Teknik Pernafasan Selama Persalinan.

Titik Pusat Perhatian

Bawalah sesuatu dari rumah anda yang dapat dijadikan titik pusat perhatian saat proses melahirkan, seperti photo keluarga atau hal lain yang menyenangkan. Hal ini dapat membantu ibu merasakan kenyamanan saat menjalai proses melahirkan. Ibu bisa juga mendengar kan musik damai yang dapat menentramkan hati ibu. Menetapkan Titik Pusat perhatian dapat pula dilakukan ibu dengan membayangkan betapa lucunya buah hati yang akan dilahirkan kelak.

Ketahui Proses Persalinan dan Teknik Melahirkan Yang Benar

Dengan mengetahui proses persalinan yang harus di lalui, ibu akan siap dan well prepare dalam menjalani proses melahirkan. Ibu yang sudah siap secara psikologis sangat membantu dan mempercepat proses persalinan. Sebuah proses persalinan yang cepat tentunya akan menjadikan melahirkan sebagai sebuah pengalaman yang ternyata tidak menyakitkan.
Mengenai tahapan proses persalinan selengkapanya bisa di baca: Tahapan Proses Persalainan.
Selain mengetahui proses melahirkan normal dengan baik, menggunakan teknik melahirkan yang benar juga akan membantu ibu mengurangi rasa sakit yang terjadi. Dengan mengetahui teknik melahirkan, proses persalinan tentunya akan berjalan dengan cepat, dan mengurangi rasa sakit pada diri ibu. Salah satu teknik melahirkan, adalah mendorong dan mengejan. Selengkapnya mengenai hal ini: Mengejan dan Mendorong Selama Persalinan
Menggunakan stimulasi untuk menpercepat proses melahirkan tentunya akan membantu ibu melewati proses melahirkan dengan cepat. Banyak obat yang bisa digunakan, namun dalam hal ini tentunya tim medis yang akan menentukan berdasar kondisi melahirkan yang sedang berjalan. Ibu tidak bisa serta merta meminta diberikan obat stimulasi kepada dokter agar proses persalinan bisa berjalan dengan cepat. Alternatif lain adalah dengan stimulasi alami. Salah satu stimulasi alamiah yang dapat mempercepat proses persalinan adalah stimulasi puting ibu. Selengkapnya bisa di baca di: Stimulasi Puting; Cara Mepercepat Proses Persalinan
Semoga proses melahirkan normal anda berjalan dengan lancar.....